TANGERANG, LensaPublik.co.id – Suasana khidmat dan penuh inspirasi menyelimuti Gedung Teatrikal Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta saat Ketua fraksi Partai Demokrat DPRD Kabupaten Tangerang, Aditya Wijaya menyampaikan pidato reflektif di hadapan civitas akademika, Jumat (28/8/2026).
Mengawali penyampaiannya, Aditya menyoroti esensi sejati dari dunia perkuliahan. Menurutnya, menjadi seorang mahasiswa bukan sekadar tentang mengejar angka akademik atau gelar kesarjanaan, melainkan sebuah proses pencarian jati diri yang utuh.
Di tengah gempuran disrupsi teknologi dan masifnya kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), laju informasi memang kian instan. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat kedalaman pemahaman masyarakat ikut meningkat.
”Semakin banyak informasi bukan berarti semakin dalam pemahaman kita. Karena itu, kita membutuhkan generasi yang kritis, yang tidak mudah percaya, berani bertanya, mampu melihat berbagai perspektif, dan mampu membedakan informasi dengan kebenaran,” tegasnya di hadapan ratusan mahasiswa FAH UIN Ciputat.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ketajaman nalar kritis saja belum cukup jika tidak diimbangi dengan landasan etika yang kokoh. Ilmu pengetahuan wajib disandarkan pada kejujuran, integritas, serta tanggung jawab moral. Pertanyaan mendasar yang harus senantiasa direnungkan bukan lagi sekadar apa yang bisa dilakukan oleh teknologi, melainkan apa yang seharusnya dilakukan sebagai manusia.
Sebagai bagian dari Fakultas Adab dan Humaniora, mahasiswa dinilai memegang mandat khusus untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan melalui pembelajaran bahasa, sastra, sejarah, budaya, dan pemikiran kritis. Jangan sampai tingkat pendidikan yang semakin tinggi justru menumpulkan kepekaan sosial terhadap sesama.
”Belajarlah untuk mendengarkan sebelum menghakimi. Memahami sebelum menyimpulkan. Dan menghargai perbedaan tanpa kehilangan prinsip,” pesan Aditya yang disambut anggukan setuju dari para peserta.
Pidato inspiratif tersebut ditutup dengan sebuah pengingat bahwa perjalanan akademik pada akhirnya bukanlah tentang siapa yang paling pintar atau paling sukses secara material, melainkan tentang bagaimana seseorang membentuk diri menjadi manusia yang kritis dalam berpikir, etis dalam bertindak, dan humanis dalam memperlakukan sesama.
“Sebab, ilmu humaniora sejatinya mengajarkan cara terbaik untuk menjadi manusia seutuhnya,” pungkasnya. (Cuni)



Komentar